narcistic phenomenon

May 15th, 2007 by sarahagisty

pastinya semua orang kenal banget ama kata narsis. atau mungkin anda juga termasuk orang yg narsis?hehe. tapi penasaran gak sih apa sebenarnya terminologi dari narsis atau history dibelakang kata narsis? ada yang udah tau? Good!!. Di negeri antah berantah konon katanya ada seorang pemuda yang bernama narciscus (bener gak ya?) hobinya melihat terus wajahnya di tepi sungai. seharian begitu terus, ia begitu terkagum-kagum akan ketampanan wajahnya. Itu cerita berabad-abad silam, kini saya melihat fenomena ini kian meradang. termasuk dengan semaraknya fs alias friendster dan juga web blog lainnya. Posting foto sana sini, fotonya yang cantik-cantik juga tampan-tampan atau posting memamerkan kemesraan dengan belahan jiwanya?hehe. Gak ada yang salah itu semua menunjukkan ke-eksistensian dirinya. Analisaku, semua yang melakukan itu punya kepercayaan diri pada level sedang sampai tingkat tinggi. Atau juga, punya tampang yang lumayan untuk dinikmati semua orang?? Anda yang membaca ini terus merasa tersinggung, jangan marah dulu yah. Tulisan ini kan cuma fenomena saja. Dan itu wajar kok narcistic phenomenon ini adalah suatu periode dimana orang ingin diperhatikan. Makanya, menurut analisaku pula bahwa periode ini akan memuncak pada saat manusia berada di fase remaja (teenagers). Pastinya fenomena ini ada ilmunya dalam psikologi, sangat menarik untuk di pelajari lebih dalam. Tapi yang jelas kadang lucu juga memperhatikan keadaaan di sekitar, terutama orang-orang yang narsis. Coba aja…

happiness

April 18th, 2007 by sarahagisty

mungkin bahasan ini udah basi bagi sebagian orang. tapi bagi yang baru menemukan jalan ini, rasanya menarik untuk disharing. tak ada kata terlambat karena semuanya punya alur hidup yg berbeda. termasuk aku. udah banyak orang mengatakan bahwa sebenarnya kebahagiaan itu ada dalam diri kita. tapi nyatanya masih banyak orang termasuk saya sendiri yang masih menggantungkan kebahagiaan berdasarkan sesuatu yang diluar sana atau segala sesuatu yang berdasarkan kebendaan. merasa akan bahagia bila ‘mempunyai’ sesuatu atau kebahagiaan akan datang kala seseorang menjadi ‘milikku’. nyatanya, namanya juga kehidupan. kadang harapan tak selalu sinergi dengan kenyataan. tatkala berbuah kekecewaan rasanya sakit banget. dan itu membuat aku ga bahagia. kenapa sih kok gajiku cuman segini doang sementara temen-temen deketku pada gede? ato kenapa sih jalan hidupku tidak mengantarkan dia menjadi pendampingku untuk selamanya? sungguh jadinya hidupku jauh dari bahagia. begitulah padahal kalo difikirkan yang dalam sebenarnya kebahagiaan terletak pada bagaimana kita merespon situasi-situasi tadi. respon itu sendiri sangat tergantung dari pola fikir seseorang. karenanya, jangan sampai deh otak kita kekurangan referensi yang dibutuhkan untuk menghadapi persolan hidup seperti ini. kalo ngga bisa bahaya. rasa bahagia bisa dibuat sendiri. caranya, kembalilah melakukan perjalanan ke dalam diri kita sendiri. analoginya jangan sampai kayak cerita sang ikan. begini, sang ikan sudah lama merasa kesusahan mencari yang namanya samudera. dimana samudera itu? kata sang ikan. ikan lain menjawab loh tempat kamu berada inilah yang namanya samudera. sang ikan tadi tidak percaya dia terus meneruskan perjalanannya untuk mencari samudera. see?? yakin deh sampai ikan itu pada akhirnya mati pun samudera ga bakal dia temukan. demikian juga dengan kita, pada akhirnya waktu akan terus berjalan sementara kita sendiri ga tau sampai kapan hidup. jadi sayang juga kalo selama hidup kita tidak pernah belajar untuk merasa bahagia dengan diri kita sendiri, dengan apa yang sudah dikasih Allah sama kita. kadang kepedihan, perasaan sakit hati itu lebih memberi banyak pelajaran hidup buat aku. ketimbang terlena dengan kesenangan. berat sih memang, ini pun tidak berarti saya sudah melewati fase itu tapi setidaknya mulai merasa ‘tersadar’ dan yakin bahwa hidupku insya allah ingin dilewati dengan baik. karena ternyata, hal-hal yang kadang kita risaukan, sesalkan, sampai pada akhirnya merasa frustasi dan putus asa. itu hanyalah persoalan-persoalan yang sepele. beneran deh, semua hal itu sepele dibandingkan dengan apa yang ada dalam diri kita. benarlah orang bijak bilang bahwa kita sebenarnya adalah makhluk spiritual yang  mengalami pengalaman-pengalaman fisikal. bukan sebaliknya. to be continue…

c-h-a-n-g-e

January 25th, 2007 by sarahagisty

Udah lama ga posting-posting, kali ini ga tau kenapa hasrat ingin menulis tiba-tiba muncul. kali ini, beda dgn postingan sebelumnya. ga berat cuman pengen nulis aja. lagian, salah satu temanku menyuruhku untuk bisa menulis. pertama, nulis kalimat yang pendek-pendek (katanya). kedua, jangan gunakan kata-kata aneh yg bikin orang ga ngerti (kupikir lebih canggih kata-katanya lebih keren tulisannya,he..), trus ketiga lupa euy, tapi kayaknya smua org (apalagi yg suka posting di blog) dah tau benar tata cara menulis yang baik dan benar (ya gak?). Beberapa hari yg lalu, sekarang juga masih sih. hidupku dikelilingi terus ama dua kata. yaitu ‘change management’. kenapa coba? karena peran diriku sbg periset majalah yang ditugasi untuk meriset tetek bengek ttg CM (singkatin aja ya), khususnya di perusahaan. cukup menarik sih kupikir, karena change atau berubah layaknya seperti sebuah kata yang selalu disebut-sebut dan ga da matinya. apa coba? ‘cinta’. (setuju ga?), hehe jadi ingat jaman dulu hobiku mengoleksi buku yang judulnya ada kata ‘cinta’-nya. dan tau apa yang terjadi? kalo dibeli semua mungkin gajiku sebulan juga masih belum cukup saking banyaknya. ada yang penasaran ga kenapa hobiku aneh begitu? (kalo penasaran tulis di coment aja ya). tentunya sajian ‘change’ yg bakal kuceritain sekarang beda bgt ama versinya SWA (tau majalah itu kan?). merasa tersentil aja ketika kata change disebut. Beberapa waktu ini banyak juga hal yang terjadi dlm kehidupanku. mulai dari berubah status, berubah lingkungan keluarga, berubah peran, berubah pola pikir (seharusnya, still in progress,he), dan perubahan lain yang memang sdg dijalani. terkadang memang resistensi menghadapi itu akan sangat besar tatkala kita belum coba tuk menghadapinya. tapi kalo mau memaknai hidup ini, kita harus berani meruntuhkan dinding itu. toh pada akhirnya, apa yang menurut sangkaan kita buruk malah menjadi kebaikan bagi diri kita. tampaknya, apa yang kutulis disini cukup general ya? (everybody knows about it) tapi bodo ah, sebenarnya masih banyak juga yang pengen ditulis, tapi yang pasti selama kita masih diberi umur, selama itu pula kita dituntut untuk terus mencari referensi guna mengelola perubahan-perubahan kehidupan yang Dia ciptakan.-gimana tulisanku lumayan ga?-he..

Renungan [I]

June 23rd, 2006 by sarahagisty

<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Kita
tak pernah tahu berapa lagi sisa hidup yang harus dijalani.

<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Namun
kita tetap berharap masih disediakan waktu untuk menyelesaikan
tanggung jawab yang masih terpikul di pundak. Selain untuk
berbuat yang lebih baik dari apa yang telah kita perbuat.

Memang,
tak terasa waktu sangat cepat berlalu.

Banyak
dari impian kita yang hanyut tersapu gelombang kehidupan, tetapi
selalu diantaranya masih ada yang bisa kita nikmati.

Karena
memang kayaknya tidak setiap impian bisa menjadi kenyataan.

Adapun
yang menjelma itulah anugrah yang diberikan pemilik kehidupan.

Tentu
harus disyukuri sekalipun dalam hal ini kita seringkali tak pandai.

Hidup
memang benar sebuah misteri. Kita tak pernah tahu pasti apa yang akan
terjadi esok hari.

Pengalaman,
pendidikan, yang kita pelajari rasanya tak pernah cukup untuk
menghadapinya.

Kita
selalu kekurangan referensi. Kehidupan begitu kreatif menciptakan
problem, sehingga kita dipaksa untuk selalu berinovasi,
berimprovisasi, mencoba menjawab tantangan dengan rasa was-was dan
dengan penuh harap mudah-mudahan yang terjadi adalah sesuai dengan
apa yang kita harapkan.

Kehidupan
diciptakan kayaknya memang sebuah tantangan bagi siapapun sesuai
dengan posisi, kondisi dan panggilan hatinya.

Karena
tanpa tantangan kehidupan menjadi tidak berarti. Disitulah barangkali
Pencipta memberikan makna pada hidup ini. Agar dengan tepat dan adil
Dia bisa menseleksi siapa yang bisa lolos dan berhasil menjawab
tantangan untuk memperoleh piala-Nya dan tinggal di istana-Nya.

Dalam
kondisi itulah kita berada antara menngapai tujuan dan tantangannya.

Tapi
kita pun harus tahu pasti benarkah tujuan kita? Sebab seandainya
keliru menentukan tujuan, kita tidak akan pernah sampai dan hidup
tidak bisa diulang dari awal.

Untuk
itulah kita akan bicara dan berbuat sebab untuk itu pula tujuan hidup
kita. Menentukan tujuan dengan benar dan memperjuangkannya dengan
mati-matian.

Plato dan Gurunya

June 22nd, 2006 by sarahagisty

Saya suka banget deh ama cerita Plato ini, isinya tentang cinta dan perkawinan. Mungkin dah pada tau juga kali yah dengan ceritanya, tapi ga da salahnya kali ya kalo saya sharing, hehe…Gini ceritanya…

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Eh, Guru cinta itu apa siyy? Bagaimana saya
  bisa
  menemukannya?

Gurunya menjawab, "Hmmm, begini deh…lihatlah ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah
  kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting.
  Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya
  kamu telah menemukan cinta" Lalu Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama,
  dia

  kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, "Loh kok?? Mengapa kamu tidak membawa satu ranting pun?"

Plato menjawab, " Habisnya…aku kan hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan
  tidak
  boleh mundur kembali (berbalik), sebenarnya sih tadi aku udah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu
  apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil
  ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari
  bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang
  tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"

Gurunya kemudian menjawab " Jadi ya… itulah cinta"

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Terus Guru,..kalo perkawinan itu apa dong?
  Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Gurunya pun menjawab "Eh, kamu lihat sana deh…ada hutan yang subur didepan kaaan?, nah kamu berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang
  satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, 
  paling segar, paling subur, pokoknya menurut kamu paling yahuud deh, nah ayo kamu lekas pergi sana"

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa
  pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga
  terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja. Malah menurut gurunya itu pohon sangatlah biasa saja.

Gurunya bertanya penasaran, "Nah looh? Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"

Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah
  menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong.
  Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk
  amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau
  menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"

Gurunyapun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan"